Gambar dari antilogin.blogspot.com
Utuh, Sempurna
Senar dipetik, girang dalam rumitnya
Drum ditabuh, binal dalam dalam riangnya
Pun Piano mendenting nakal dalam loncatnya
Dan kita semua tahu saxophone punya jalan masuk sendiri
Dalam riuhnya hilir mudik ini
Merumit, menggila, menyimpang, mendobrak. Berontak
Egois…?
Tapi harmoni…
Mungkin ekstase…
Bukankah musik ini memiliki bahasa sendiri
Kaktus setinggi bahu di arah kanan beranda ini mematung. Kaku
Gelas keramik di depanku penuh, hitam, kental. Mengepul. Gemulai
“Ardi, jangan terlalu larut, besok upacara, kamu nggak malu kena teguran terus dari gurumu”
Sunday Jazz dan kopi hitam
Sungguh malam senin yang sempurna
___
Ojan
Palu, 01 mei 2011
Bisik-mu
“Seven years” ucapmu mendayu di telingaku
Pengujung sore yang indah
Dari balik ujung atap seng itu langit tenang mengintipku
“What am I to you” tanyamu kemudian.
Kupejamkan mataku
“Don’t know why” bisikku dalam hati, seperti juga bisikmu di sore sebelumnya.
Dinding papan bangunan itu tersembul jingga.
Aku larut bersama Norah Jones.
___
Ojan
Buol, 26 mei 2011
Misteri Hujan
Seperti biasa hujan selalu membawa kejutan, misteri, mungkin juga asa
Tentang bakal tetes yang menggumpal sepanjang paralon putih di pekarangan kita
Tak ada sangkal bagi mantra-mantra hidup yang diam di dalamnya
Dan bau segar tanah yang menyeruak ke angkasa
Akalku selalu kedap mencari penjelas sensasi itu
Ah semua menjelma misteri
Seperti gerutumu senja itu
___
Ojan
Palu, 27 april 2011, 11.32
Basa-basi Terik
Matahari saja mungkin yang terik malu
Tersesat dedaunan taman yang sesak
Sedang aku duduk berjejer denganmu
Tiga, empat jengkal
Cukup dekat untuk membauimu
Mengunci mataku pada mimikmu yang sibuk berganti
Menyelami semangatmu
Atau sekedar memberitahumu akan semut lancang yang menjelajah rambut dan bahumu
Terik siang memanggang ruas jalan kota kecil kita
Jhony Deep begitu menggemaskan dalam Secret Window
Zarathustra mungkin benar-benar gila
Gadis revolusi merah di pedalaman barat Nepal menjadi sadis di usia belia
“Banyak kemunafikkan di tubuhku, di tubuh kita” katamu
Dan teori…?
“Terlalu banyak teori, sendiri menjadi pilihan nyaman”
Jika basa-basi ini menawarkan siang yang lebih terik, lebih panjang
Maka akan kuwejangkan Jhony Deep untuk lebih gila
Pada Nietzsche untuk menasehati Zarathustra
Dan kemunafikkan…?
Cerita tentang senja pasti akan menghiburmu dengan kejujurannya
Matahari masih kemayu
Begitu pun lalu lalang dan bincang kecil disana sini
Terlalu banyak basa-basi di taman ini
“Kapan kita bisa ketemu narasumber?” sergahmu
Cerita senja…?
Mungkin belum waktunya
___
Ojan
Palu, 30 april 2011
Sedang kagum pada seseorang
Sudahlah, Biarkan, Diamkan
Aku ingin kamu
Memang tak sebesar inginmu
Kita berada dititik ingin yang ternyata berjeda
Biarlah…
Kemudian aku akan menyayangmu
Rasa yang juga ternyata berkadar rendah dari rasamu
Diamkanlah…
Duduklah di sampingku
Engkau pemilik kehalusan rasa
Malam ini masih terlalu dini untuk ku lalui sendiri
Lihatlah, langit masih meninggalkan jejak senja, ya senja kita
Aku tahu kita masih akan duduk dalam penghayatan yang berjeda
Biarlah…
Diamkan…
___
Ojan
Palu, 12 mei 2011





tuh kan…
apa ku bilang juga…
keren2 pula puisinya, De
eaaaaaa……….. juga (ikut2 opa Ahsan)
wkwkwkkw
makasih Ka’ Hilda….
sebenarnya ekspresi eaaaa…. dlm masyarakt Kaili itu ada jg.
tapi dalam masyarakat Kaili itu ekspresi Kaget dan Heran
“Eaaa… vesia tano,” artinya “oh… begitu ya,”
oooh ya?
Eaaaavesiatano kalo gt hehhehee
Terima kasih puisinya. heheheh
thanks inspirasinya…
Terima kasih, puisinya. Heheheh
thanks atas inspirasinya…
Eaaaaa
Aeeee…
hmmmmmmmmmmmmm……..!