Gerakan Perlawanan Intelektual Ala Pierre Bourdieu

Kemajuan sebuah bangsa turut ditentukan oleh kaum intelektualnya. Para cerdik cendekia diharapkan memberikan sumbangsih bagi masyarakat. Namun, kadang independensi dan otonomi intelektual dipertanyakan ketika bersinggungan dengan kekuasaan. Di manakah posisi intelektual?

Ada tiga pendekatan yang mendedah posisi intelektual. Pertama, merujuk pada pandangan Julien Benda yang melihat intelektual berposisi di atas awan. Intelektual yang bekerja untuk pemerintah atau perusahaan sejatinya mengkhianati kebenaran. Paradigma ini dikenal dengan Bendaisme.

Kedua, pendekatan yang dipopulerkan oleh Antonio Gramsci. Menurutnya, semua orang adalah intelektual, namun tidak semua orang mempunyai fungsi intelektual dalam masyarakat. Intelektual yang bergabung dengan penguasa tidak melanggar kebenaran profesinya, namun melanggar kepentingan kelas sosialnya.

Pendekatan ketiga datang dari pemikiran Karl Mannheim dalam karyanya, Ideologi dan Utopia. Ia berpendapat bahwa intelektual bukanlah bagian dari kelas mana pun, namun merupakan orang bebas (free-floating). Intelektual bertugas memberikan saling pengertian di antara kelas-kelas dan menjaga nilai-nilai di masyarakat.

Tiga pendekatan di atas dikritik oleh Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis. Menurutnya, pendekatan-pendekatan tersebut gagal untuk melihat intelektual secara komprehensif. Pandangan Bendaisme menempatkan intelektual di menara gading. Teori Gramsci pun bisa terjebak dalam soal kekuasaan. Sedangkan pendekatan Mannheim terlalu utopis.

Buku karya Arizal Mutahir ini berikhtiar untuk menelaah pemikiran Bourdieu tentang intelektual. Bagi Bourdieu, intelektual menanggung kepentingan universal, yakni mempertahankan kebenaran dan keberpihakan pada yang tertindas (hal. 9).

Dunia sosial di mata Bourdieu tidak semata hanya kumpulan perilaku individu maupun tindakan yang ditentukan oleh struktur, namun merupakan praktik sosial. Ia merumuskannya dengan persamaan: (Habitus x Modal) + Arena = Praktik.

Habitus merupakan seperangkat pengetahuan, nilai, atau cara bertindak agen sosial yang umumnya bekerja di bawah aras ketidaksadaran. Modal adalah hubungan sosial atau energi sosial yang menentukan kedudukan sosial. Arena adalah sistem dan relasi di mana pertarungan posisi para agen terjadi di dalamnya.

Agen-agen sosial menjalankan strategi-strategi demi akumulasi modal simbolis. Mereka yang memiliki modal simbolis melimpah—seperti gelar, status bangsawan, atau jabatan—akan mendominasi arena. Inilah yang disebut sebagai kekerasan simbolis.

Bourdieu sangat menekankan agar otonomi intelektual dipertahankan meskipun dalam ‘pertarungan’ tersebut arena kekuasaan begitu mendominasi dan menghegemoni arena produksi budaya.

Menurut Bourdieu, otonomnya sebuah arena tergantung dari kemauan agen yang ada di dalamnya untuk mempertahankan prinsip dan aturan yang berlaku di sana (hal. 121). Integritas intelektual terhadap prinsip keilmuannya pun diuji.

 

Intelektual Kolektif

Globalisasi dianggap oleh Bourdieu mengancam otonomi intelektual. Menurutnya, globalisasi adalah universalisme palsu (fake universalism) yang melayani kepentingan kaum dominan dan ideologi neoliberal.

Ideologi neoliberal menjadikan dunia semakin komersial. Hal itu disokong oleh ‘hubungan haram’ antara kekuatan media, politik dan ekonomi. Intelektual makin terpinggirkan sedangkan para teknokrat, bankir, dan CEO perusahaan semakin berkuasa.

Untuk itu, Bourdieu menawarkan model gerakan perlawanan yang ia sebut “intelektual kolektif” (collective intellectual), yakni gerakan lintas budaya, bangsa, negara dan multidisipliner. Gerakan ini memiliki struktur bebas, jaringan informal, dan tidak terkonsenterasi di satu pusat. Model ini menekankan kemandirian dan keterlibatan politik kaum intelektual.

Tak sekadar berteori, dalam tataran praksis pun Bourdieu konsisten dengan keberpihakannya kepada kelas yang terdominasi. Pada 12 Desember 1995, ia turun dalam aksi pemogokan umum. Maret 1996, ia menandatangani petisi pembangkangan sipil melawan hukum Perancis yang memperketat legislasi imigrasi. Bahkan, ketika kaum pengangguran menduduki kampusnya pada 1998, ia justru memihak mereka.

Bourdieu juga mendukung intelektual Aljazair, menolak penghapusan subsidi atas nama pasar bebas, membela kaum tuna wisma, buruh, bahkan lesbian dan gay. Sikap politiknya yang cenderung menentang kebijakan pemerintah membuatnya diserang oleh media massa. Namun, ia tak surut karena menurutnya itulah yang harus dilakukan intelektual, yakni menjadi ‘juru bicara’ bagi kaum yang tertindas.

 

Data buku:

Judul               : Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu: Sebuah Gerakan Untuk Melawan Dominasi

Penulis             : Arizal Mutahir

Penerbit          : Kreasi Wacana, Yogyakarta

Tahun              : I, 2011

Tebal               : x + 222 halaman

ISBN               : 978-602-8784-24-5


Eko Budi Nugroho

Tentang Eko Budi Nugroho

A quick learner, a book lover.